{"id":6170,"date":"2023-10-13T03:50:38","date_gmt":"2023-10-12T20:50:38","guid":{"rendered":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/?p=6170"},"modified":"2023-10-13T04:21:41","modified_gmt":"2023-10-12T21:21:41","slug":"edisi-332-ra-nurul-hidayah-bangsal-bermain-peran-memperkenalkan-tema-profesi-dan-kegunaan-alat-profesi-jadi-dokter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/?p=6170","title":{"rendered":"Edisi 333 : RA Nurul Hidayah Bangsal \u2013 Bermain Peran, Memperkenalkan Tema Profesi dan Kegunaan Alat Profesi ( Jadi Dokter)"},"content":{"rendered":"<p>Jum\u2019at, 13 Oktober 2023<\/p>\n<p><em>Edisi 333 : RA Nurul Hidayah Bangsal \u2013 Bermain Peran, Memperkenalkan Tema Profesi dan Kegunaan Alat Profesi ( Jadi Dokter)<\/em><\/p>\n<p>Mojokerto, (13\/10\/2023). Manfaat Bermain Peran untuk Anak Usia Dini. Bermain peran atau role play adalah permainan tindakan meniru karakter dan perilaku dari seseorang yang berbeda dari diri anak sendiri. Pada permainan ini, anak bisa bertindak dan berbicara seolah-olah ia adalah karakter yang ia perankan dalam skenario yang ia buat sendiri. Karakter yang anak perankan bisa berasal dari mana saja, Bu. Ia bisa berpura-pura sebagai profesi yang ada di dunia nyata, seperti dokter di rumah sakit, atau \u201cmenghidupkan\u201d karakter fiksi favoritnya, misalnya Buzz Lightyear dari The Toys Story. Bahkan, si Kecil mungkin bisa menciptakan satu karakter baru dari imajinasinya sendiri.<\/p>\n<p>Bagi anak, roleplay adalah cara yang menyenangkan untuk \u201cbelajar merasa jadi orang dewasa\u201d.<\/p>\n<p>Jadi, ia akan belajar tentang bagaimana sebuah profesi bisa melakukan pekerjaannya atau bagaimana cara membuat sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan secara nyata oleh anak kecil. Di sini, anak secara tidak langsung belajar memahami konsep kompleks peran manusia dalam kehidupan nyata mulai dari cara bicara, jenis bahasa yang digunakan, gesture tubuh, ekspresi wajah, hingga emosi yang ditunjukkan.\u00a0 Sambil bermain, anak juga secara tidak langsung mempelajari keterampilan penting yang membantu perkembangan kognitif dan sosial-emosional mereka.<\/p>\n<p>Maka itu, setidaknya ada 7 manfaat penting yang akan didapatkan anak dari role playing.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sinergimadrasah.web.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/WhatsApp-Image-2023-10-12-at-20.35.39-225x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" \/>Simak penjelasan berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Meningkatkan Kreativitas dan Imajinasi Anak<\/li>\n<\/ol>\n<p>Bermain peran dapat membantu anak dalam meningkatkan keterampilan kognitif dan kreativitas anak, sebab kegiatan ini menuntut anak untuk menggunakan imajinasinya. Untuk mendukung imajinasi anak dan memberikan pengalaman bermain peran yang lebih nyata, Ibu bisa lho menyediakan kostum-kostum lucu dan mainan profesi seperti mini kitchen-set yang dibuat dari kardus atau dengan membeli kids doctor kit. Imajinasi yang terus diasah kelak akan membantu anak dalam menikmati proses membaca buku, merencanakan kegiatan dalam hidup, hingga menempatkan diri di posisi orang lain alias berempati.\u00a0<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Meningkatkan Keterampilan Bahasa<\/li>\n<\/ol>\n<p>Saat memerankan tokoh lain, secara otomatis anak akan mencari tahu bagaimana cara tokoh tersebut berbicara dan kosakata apa saja yang sering digunakan oleh si tokoh. Misalnya saat Ibu mengajak si Kecil untuk berpura-pura menjadi Dora the Explorer dan Swiper yang suka mencuri. Di sini, si Kecil akan banyak menggunakan kata-kata seperti \u201cSwiper jangan mencuri\u201d sambil mengacungkan tangannya ke depan. Dengan melakukan hal tersebut secara berulang-ulang, maka anak mendapatkan pemahaman baru bahwa mencuri itu tidak baik. Tidak hanya itu, Bu. Anak juga akan mengetahui bagaimana cara mengutarakan apa yang ia pikirkan kepada orang lain dengan intonasi dan dengan susunan kata yang tepat.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Mengasah Kemampuan Berkomunikasi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Untuk dapat memainkan perannya dengan baik, si Kecil perlu berinteraksi secara langsung dengan lawan mainnya, entah itu Ibu, Kakak, Ayah, maupun teman sebayanya. Jika anak masih terlihat pasif, Ibu bisa kok memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana atau pertanyaan menarik. \u201cWah apelnya berwarna merah, cantik sekali Pak. Manis tidak ya rasanya?\u201d atau \u201cWah, Ibu koki sibuk sekali. Sedang masak apa?\u201d Ibu bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, sehingga terjadilah komunikasi seperti saling bertukar informasi, ide, negosiasi, hingga menyatakan simpati.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Mengembangkan Sikap Empati<\/li>\n<\/ol>\n<p>Tentu Ibu pernah dengar pepatah yang bilang, \u201cWalk a mile in someone else\u2019s shoes\u201d bukan? Nah, role play akan membantu anak mengembangkan kecerdasan sosial dan emosionalnya, yang kemudian pelan-pelan membentuk sikap empati dalam diri anak. Bagaimana caranya? Selama sedang berpura-pura, anak secara instingtif akan mencari cara untuk coba berinteraksi dan berkomunikasi dengan lawan mainnya dalam skenario-skenario yang berbeda. Situasi ini memberikan kesempatan pada anak untuk memahami lawan mainnya, mulai dari mimik muka, gerak-gerik, nada bicara, dan pemilihan kata yang dipakai. Kemudian ia akan mencoba menanggapi reaksi lawan mainnya dengan mencontoh bagaimana peran tokoh tersebut bertindak dan berbicara. Pada momen ini, role play dapat membantu anak membentuk pemahaman yang lebih dalam tentang situasi tertentu untuk dapat melihat dari sudut pandang orang lain. Dengan harapan, ia juga akan belajar untuk memahami norma yang berlaku dan memiliki kontrol perilaku yang baik dalam kehidupan nyatanya.\u00a0<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sinergimadrasah.web.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/WhatsApp-Image-2023-10-12-at-20.35.40-225x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" \/><\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li>Mengasah Kemampuan Penyelesaian Masalah<\/li>\n<\/ol>\n<p>Role playing adalah salah satu kesempatan bagi untuk belajar menyelesaikan masalah atau konflik di situasi tertentu. Contohnya saat Ibu membuat cerita tentang tiga orang anak yang sedang tersesat saat berpetualang di hutan. Ternyata, perbekalan mereka habis dan tinggal tersisa satu potong roti cokelat. Saat anak-anak bermain, coba perhatikan bagaimana mereka bereaksi terhadap masalah yang sedang mereka hadapi ini. Mungkin, akan ada satu anak yang berusaha untuk mengambil semua rotinya dan ada anak yang diam saja. Nah di sini, tugas Ibu sebagai \u201cnarator\u201d adalah untuk memancing mereka untuk bernegosiasi dan berkompromi membagi roti tersebut agar tidak ada yang kelaparan. Misalnya dengan berkata, \u201cWaduh, rotinya cuma satu! Supaya tiga kawanan petualang hebat ini tidak ada yang kelaparan dan bisa pulang dengan selamat, rotinya harus diapakan, ya?\u201d<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li>Membantu Anak Mengekspresikan Emosi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ketika Ibu melihat anak kesulitan dalam mengkomunikasikan perasaannya, Ibu bisa lho mengajak anak bermain peran agar ia merasa lebih mudah dalam mengeluarkan emosinya. Ibu bisa secara spontan mengajak si Kecil memainkan peran yang sesuai dengan kondisinya. Misalkan, sepulang dari preschool anak terlihat murung. Namun ketika ditanyai anak memilih diam seribu bahasa. Di sini ibu bisa mengajak bermain peran sebagai guru dan murid untuk mengulik apa saja yang tadi terjadi di preschool. Selama permainan berlangsung, si Kecil akan secara tidak langsung menceritakan apa yang terjadi sambil mengeluarkan emosinya dengan lebih nyaman karena tidak takut akan dimarahi atau diberi label. Ketika emosinya sudah berhasil dikeluarkan, si Kecil akan merasa lebih tenang dan tingkat stresnya menurun.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sinergimadrasah.web.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/WhatsApp-Image-2023-10-12-at-20.35.40-1-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li>Meningkatkan Kebugaran Fisik Anak<\/li>\n<\/ol>\n<p>Tidak hanya perkembangan kognitif dan emosional, role-playing juga ternyata memberikan pengaruh positif pada perkembangan fisik anak. Contohnya ketika si Kecil berpura-pura menjadi polisi dan ia berlari mengitari taman belakang untuk menangkap temannya yang berperan menjadi pencuri. Secara otomatis ia juga melakukan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kekuatan massa otot, keterampilan motorik halus dan kasarnya, juga kemampuan koordinasi antara mata dan anggota gerak tubuhnya.<\/p>\n<p>By. Intan guru RA NH<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sinergimadrasah.web.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/logo-5-prioritas-2-300x72.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"72\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jum\u2019at, 13 Oktober 2023 Edisi 333 : RA Nurul Hidayah Bangsal \u2013 Bermain Peran, Memperkenalkan Tema Profesi dan Kegunaan Alat Profesi ( Jadi Dokter) Mojokerto, (13\/10\/2023). Manfaat Bermain Peran untuk Anak Usia Dini. Bermain peran atau role play adalah permainan tindakan meniru karakter dan perilaku dari seseorang yang berbeda dari diri anak sendiri. Pada permainan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6174,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-6170","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-e-warta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6170"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6170\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6207,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6170\/revisions\/6207"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sinergimadrasah.web.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}